Public Speaking Bakat atau Determinasi?

Di waktu kuliah bahkan waktu SMA dulu momen saat guru atau dosen memberikan tugas untuk maju kedepan misalnya untuk sekedar menjawab pertanyaan dipapan tulis, menyanyi dipelajaran seni atau presentasi individu jadi sebuah momok yang bikin deg deg ser buat kita. Ada rasa takut, grogi dan malu yang campur aduk. Kita tahu bahwa yang melihat kita adalah teman-teman kita, namun rasanya saat didepan mereka seperti para juri dan komentator yang siap nyerang kesalahan kita. Berbagai trik diberikan oleh orang-orang disekitar, Ada yang menyarankan untuk menganggap yang didepan kita adalah patung. Mitos inilah yang sampe sekarang aku ga bisa ngerti. Mungkin daya imajinasiku lemah atau memang ini hanya mitos. Ada juga yang menyarankan untuk bikin ‘kopekan’. Kopekan adalah secarik kertas yang diberi tulisan kecil yang kalo sudah grogi tulisan jadi kabur dan mendadak ga keliatan karena kekecilan. Mitos atau fakta, tampil dihadapan orang-orang menjadi masalah klasik yang perlu diatasi oleh setiap orang.

Mitos lain mengatakan bahwa public speaking ini tentang bakat. Orang yang memang kelihatan percaya diri tinggi setiap ada kegiatan public speaking disebut berbakat. Mungkin memang benar, namun aku memang tidak terlalu mempermasalahkan tentang bakat karena aku percaya Tuhan memberikan start yang sama bagi setiap manusia yaitu dari bayi. Aku lebih suka pada kata-kata ‘jika orang lain bisa kenapa kita tidak?”. Bagiku yang menentukan bisa atau tidak kita bukan bakat ataupun orang lain melainkan pikiran dan hati kita. Saat kalian memang berkeinginan untuk bisa melakukannya maka yang pertama harus diyakinkan adalah hati dan pikiran kalian. Public speaking banyak menentukan jenjang karir seseorang, saat seorang teknisi menguasai public speaking maka dia bisa menjadi konsultan. Pemborong bisa mendapatkan tender jika kemampuan public speaking-nya bagus, karyawan biasa pun jika ingin naik jabatan tidak terlepas dari kemampuan bicaranya, ga mungkin kan manager disuruh bicara didepan karyawannya keringetan ga jelas. Hal ini membuktikan bahwa public speaking harusnya dikuasai oleh setiap orang. Apa iya kita harus menyerahkan pekerjaan yang bagus-bagus untuk orang yang berbakat saja? kalo aku sih NO tapi ga tau kalo mas anang sama agnez.

Pekerjaanku saat ini 80% kegiatannya adalah public speaking padahal aku juga termasuk orang yang kesulitan untuk tampil didepan orang banyak. Seperti yang sudah kujelasin sebelumnya, background pendidikanku adalah TI, aku lebih pinter ngomong sama laptop daripada orang didepanku. Aku bisa jelasin keinginanku sama mesin dengan mudah, nyuruh mesin bikin aplikasi atau web, nyuruh dia puter lagu atau muter film dan itu terasa lebih ringan daripada harus melibatkan kegiatan dengan orang lain. Terlebih lagi hasil evaluasi psikolog nunjukin kalau social awareness-ku ada dipersentase yang menghawatirkan. Presentase ini nunjukin kalau aku cenderung tidak peduli akan lingkungan sekitarku. Hasil test inilah yang jadi acuanku untuk merubah cara pandangku tentang menghadapi orang sekitar baik itu secara sosial maupun dalam kaitannya public speaking.

Pada postingan kali ini, ada beberapa hal yang harus diteliti dan dilakukan agar public speaking yang kalian takuti jadi salah satu senjata yang menunjang karir kalian. Hal ini aku dapat dari pengalaman serta beberapa saran dari luar yang membantuku menyelesaikan persoalanku di public speaking. Aku percaya bahwa bakat itu hanya soal mindset belaka, kita semua dikaruniai bakat yang sama-sama luar biasa yaitu hati dan otak kita. The question on how to be a good public speaker? Here is the step by step about how to be a good public speaker from my point of view.

  1. Perbaiki hati dan pikiran kalian yang lemah

Hal pertama yang aku lakuin untuk memperbaiki kemampuan berbicaraku adalah menghilangkan kebiasaan minder. Berpikir bahwa orang lain lebih baik dari kita itu tidak terlalu bagus untuk masa depanmu nak. Aku mulai membangun mindset i’m the best on this field atau minimal aku punya hal yang sama kaya yang lain. Percaya atau tidak poin ini lah yang paling sulit aku perbaiki. So bekerja keraslah, kalian harus menyempatkan waktu untuk sendiri dan me-reset mindset. Meski kalian merasa tidak lebih baik dari orang lain mulai sekarang tanamkan dalam hati kita bahwa kalian akan berubah jadi lebih baik. Jangan cuma kata-kata buaya, jangan bohongi diri sendiri. Kalo tidak berhasil meyakinkan diri sendiri kalian bisa berhenti membaca dan ga perlu melihat poin berikutnya. Say it again, I have a potential to be the best! mudah kok, kalian tidak harus jadi yang terbaik dibandingkan orang lain melainkan hanya perlu jadi yang terbaik dari diri kalian sebelumnya, saingan kalian hanya diri kalian sendiri. Lanjut part 2.