4 Langkah untuk Menguji Sebuah Ide Startup

Pertanyaan yang kerap kali muncul dibenak orang saat akan memulai sebuah Startup adalah “Ideku bagus ga sih?, “laku ga sih” dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya. Kemudian pertanyaan berikutnya ada ga sih step yang bisa kita lakuin untuk mengurangi kegalauan tersebut? Jawabannya Ada. Pelaku startup umumnya menyebut metode ini dengan Lean Market Validation.

Sebelum terjun terlalu jauh dengan membuat startup dan menghabiskan banyak waktu dan modal ada baiknya ide kalian di-validasi dahulu kelayakannya. Dibeberapa kasus, banyak orang yang secara tidak sengaja menghabiskan banyak energi dan sumber daya untuk membangun sesuatu yang keliru.

Bagaimana Cara Melakukan Validasi Ide?

Cara yang paling mudah adalah dengan menyusun beberapa pertanyaan yang akan kita gunakan untuk melakukan validasi dengan secara langsung berinteraksi dengan masyarakat.

Ada beberapa versi pertanyaan yang biasa digunakan untuk memvalidasi ide tersebut. Dikesempatan kali ini kita akan bahas 4 tahapan yang dapat diaplikasikan untuk memvalidasi ide startup kalian.

1. Validasi Masalah yang Kalian Angkat

Apakah permasalahan tersebut layak untuk diselesaikan? Apakah masyarakat membutuhkan adanya solusi atau terobosan atas permasalahan yang ingin dijadikan produk kalian? Kalian bisa secara langsung mencari jawaban real dengan mencari “lawan bicara yang kritis” untuk menguji poin tersebut. Ingat lagunya Tulus “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” cari teman ngobrol yang mau membahas Ide tersebut. Alternativenya kalian bisa kontak logine untuk konsultasi ide.

Apa saja yang bisa dikerjakan?

  • Biarkan calon pengguna mencoba produk yang kalian buat.
  • Wawancara pengguna.
  • Lakukan penelitian untuk mendata perilaku, motivasi, serta kognitif pengguna.
  • Survei

Inti dari memvalidasi Ide adalah jangan sampai ide yang kalian anggap solusi ternyata tidak bagi pengguna.

2. Validasi Pasar

Setelah menguji sisi permasalahan yang mau disolusikan, cek sebarapa besar pangsa pasarnya. Identifikasi calon pengguna dan berikan skala priotas untuk masing-masing calon pelanggan. Intinya kalian harus yakin ‘tanpa baper’ dan over PD. Kaji secara hati-hati apakah produk kalian memiliki tempat dikomponen masyarakat.

Untuk meneliti pasar kalian bisa juga menggunakan beberapa tools seperti Google Trends, Google AdWords Planner atau sekedar melihat keyword paling dicari di Google untuk topik yang kalian angkat. Selain itu, kalo ada kalian bisa juga meneliti kompetitor.

3. Validasi Produk

Ide tidak bermasalah, pasar menjanjikan tapi yakinkah produk yang kalian buat mengetaskan masalah tersebut? UJI dengan membuat sebuah prototype. Hal ini penting karena kalian wajib yakin jika produk kalian akan diterima oleh masyarakat sebagai solusi dari sebuah masalah. Dari pekerjaan ini kalian akan mendapatkan feedback dan akan mengetahui behavior si pengguna yang penting untuk referensi kalian berikutnya.

Tujuan akhir validasi produk adalah memastikan bahwa produk kalian lah solusi tercanggih dan terbaik yang dapat masyarakat dapatkan untuk mengatasi masalah yang ada.

4. Validasi Keinginan Masyarakat Untuk Membeli

Terakhir cek apakah masyarakat mau membayar untuk solusi kalian? seberapa besar keinginan mereka membayar?

Untuk melakukan validasi ini kalian harus mempersiapkan sample produk yang siap untuk dipasarkan. Semua akan jadi sia-sia jika tidak ada yang mau mebayar untuk produk kalian. Faktornya bisa bermacam-macam, tidak membutuhkan, tidak terlalu darurat, ada solusi lain yang lebih cocok, bagus tapi terlalu mahal dan banyak lagi yang lainnya. Jadi, mengetahui keinginan masyarakat untuk membeli ‘barang dagangan’ kalian adalah hal wajib yang perlu kalian kaji secara seksama dan sabar.

Ok cukup untuk sharing kali ini, sebenarnya ada banyak referensi lain terkai dengan Lean Market Validation ini baik dari luar maupun dalam negeri so tidak ada salahnya kalian menambah sumber bacaan kalian untuk mendapatkan alat uji yang cocok untuk mem-validasi Ide.